TAWASSUL DAN WASILAH

           FASAL I

TAWASSUL DAN WASILAH
DALAM PANCARAN KITAB DAN SUNNAH
Pada hari kiamat, setiap umat akan datang beserta rasulnya
masing-masing. Namun tidak ada umat yang keutamaan-
nya seperti umat ini, dan tidak ada rasul yang derajat dan
nilainya seperti rasul kita Muhammad saw.
Rasul kita yang agung diutus oleh Allah untuk menjadi penerang
bagi agamanya dan bagi kebenaran, untuk menjadi pilar utama bagi
tauhidnya, dan untuk menjadi pelopor bagi jihadnya dalam dakwah.
Beliau menyelesaikan semua tugasnya dengan sikap amanah. Maka
shalawat dan salam baginya dari lubuk hati dan pikiran. Beliau
membuka penglihatan dengan cahaya dakwahnya yang terang bagi
mata yang melihat maupun yang buta.
Allah menampilkan tanda-tanda nubuwat Rasulullah setelah
memantapkannya dengan mukjizat Al Qur'aan. Allah juga memper-
kaya beliau lebih dari utusan-Nya yang lain dengan dalil-dalil dan
bukti-bukti. Hal itu bisa menjadi tambahan penjelasan untuk memper-
kuat argumen dalam menghadapi orang-orang yang kurang kepan-
daiannya dan menundukkan orang-orang yang lemah bashirahnya.
Dengan demikian, Al Qur'aan mulia yang mengagumkan ini menya-
darkan manusia karena bisa mengetuk kalbu mereka dan disertai
pula dengan pemikiran dan petunjuk sebagai dalil. Juga mengagum-
kan bagi orang yang sangat berhati-hati dan mengagungkan rasionya.
Maka dari itu, orang-orang yang bodoh akan bersedih hati karena
angan-angan dan penglihatannya dikalahkan, sedangkan orang-or-
ang yang pintar terpatahkan oleh pemahaman dan penjelasannya.
Pada pokoknya, Al Qur'aan bisa mendekati setiap tingkatan manusia
dari berbagai jalan, sehingga mereka dapat mencernakan dan
meresapi penjelasannya. Apa yang terkandung di dalamnya
mempunyai daya tarik tersendiri bagi setiap macam manusia.
Kitab-Kitab terdahulu telah memberi isyarat tentang terhormatnya
kedudukan Rasulullah saw., tentang jangkauan ilmunya yang sangat
tinggi yang tak mungkin dicapai oleh manusia lain, serta kemuliaan
derajatnya dari sisi itu. Beliau telah menyelesaikan tugasnya dengan
mantap, yang bisa diketahui oleh siapa saja yang mengikuti sebagian
ikhwalnya, yang menelusuri sejarahnya, yang mempelajari kata-
katanya yang singkat tetapi padat, yang mencermati keelokan
karakternya, keindahan perannya, kebijaksanaan sabda-sabdanya dan
ilmunya tentang apa yang terkandung di dalam kitab-kitab yang
diturunkan sebelumnya, hikmah-hikmah para cerdik cendekia, atau
sejarah umat-umat yang sudah punah. Beliau juga membawa berbagai
teladan, siasat-siasat makhluk, ketetapan syariat, penerapan adab
psikologis dan akhlak yang terpuji. Ilmu yang dibawanya banyak
dikutip oleh para cendekia melalui sabda-sabdanya. Tanda-tanda
kebenarannya adalah argumentasinya yang kuat tentang berbagai hal.
Semua itu termasuk mukjizat Rasulullah yang diberikan oleh
Allah tanpa diajarkan atau dilatih, tanpa membaca Kitab umat-umat
yang mendahuluinya, atau belajar dari ulama-ulama yang
mendahuluinya. Nabi yang buta huruf ini tidak mengetahui semua
hal-hal tersebut hingga Allah melapangkan dadanya kemudian
menjelaskan, mengajarkan, dan membacakan untuknya.
Sejalan dengan itu adalah penelaahan tentang hal-ikhwalnya jika
perlu, dan dengan bukti yang mantap atas pandangan-pandangan
nubuwatnya yang keseluruhannya tidak terhitung dan tidak dapat
dihafalkan.
Maka dengan perhitungan kecerdasan pikirannya, Rasulullah
saw. bisa memahami semua yang diajarkan oleh Allah, ilmu tentang
segala kejadian, juga tentang keajaiban kemahakuasaan dan
keagungan kerajaan-Nya:
وعلمك ما لم تكن تعلم وكان فضل الله عليك عظيــما
النساء : 113
... dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan
adalah karunia Allah sangat besar atasmu. (QS. An Nisaa': 113).
Rasul kita, nabi yang buta huruf, yang kepribadiannya seperti
ini, tentu saja kedudukannya sangat tinggi. Beliau adalah
manusia pilihan Ilahi. Alasan mengapa Allah memilihnya
merupakan rahasia yang tidak akan mampu dicapai oleh akal
yang jenius sekalipun, dan merupakan seleksi Rabbani yang tidak
akan dapat dicapai oleh kalbu yang sadar dengan ketetapan

pemilihan diri beliau. Maka tidak aneh bila Allah menjadikan
perintah-perintahnya sebagai hal yang luar biasa, menyim-pang
dari adat kebiasaan. Meskipun manusia, beliau bukanlah seperti
manusia lain. Walaupun rasul, beliau tidaklah laksana rasul-rasul
yang lain. Beliau adalah rahmat dari Allah bagi alam semesta,
dan nabi yang diutus, yang tidak sebagaimana semua nabi dan
rasul lainnya.
اغطيــت خمســا لم يعطهن أحد من الأنبياء قبلى : نصرت
بالرعب مسيرة شهر, وجعلت لى الأرض مسجدا طهورا,
فأيما رجل من أمتى أدركته الصلاة فليصل, وأحلت لي الغنائم
ولم تحل لأحد قبلي, وأغطيـت الشفاعة, وكان النبي يبعث
إلـى قومه خاصة, وبعثت إلى الناس عامة (أخرجه البخارى
ومسلم والنسائي, عن جابر رضي الله عنه
"Aku dikaruniai lima hal yang tidak diberikan kepada para nabi lain sebelum
diriku: aku ditolong dengan rasa gentar dari jarak sebulan sebelumnya;
dijadikan seluruh bumi ini sebagai tempat sujud dan suci, sehingga setiap
orang dari umatku harus menegakkan shalat bila telah masuk waktunya;
dihalalkan bagiku harta rampasan perang (ghanimah), yang tidak dihalalkan
atas nabi-nabi lain sebelumku; aku diberi kesempatan untuk memberi syafaat;
dan setiap nabi diutus hanya kepada kaumnya, sementara aku diutus kepada
manusia seluruhnya." (Diriwayatkan oleh Al Bukhari, Muslim, dan
An Nasa-i dari Jabir).
Begitulah adanya. Beliau diberi Allah kekhususan untuk
memberikan syafaat yang agung dan dianugerahi kedudukan yang
terpuji. Maka sama sekali tidak mengherankan bila beliau demikian
merendahkan dirinya di hadapan Allah. Sementara itu, semua
orang bertawassul dengan perantaraannya dengan memanfaatkan
kedudukannya yang tinggi, tempatnya yang agung, serta derajatnya
yang utama di sisi Allah; pun dengan rasa kasihnya terhadap Allah
dan cinta Allah terhadapnya; juga dengan rahasia-rahasia yang
terbentang di antara dirinya dengan Allah.

Bukan lagi merupakan hal yang menakjubkan bila kita
bertawassul dengan perantaraannya kepada Allah tatkala meng-
hadapi keadaan yang mendesak dan membutuhkan pertolongan-
Nya. Allah telah mengatur hal tersebut bagi kita di dalam Kitab-
Nya, sementara Rasulullah sendiri telah menjelaskannya di dalam
sunnahnya. Firman Allah:
ياأيها الذين ءامنوا اتقوا الله وابتغوا إليــه الوســــلة
المائدة : ٤٣٥
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan
yang mendekatkan diri kepada-Nya... (QS. Al Maaidah: 35).
Juga firman-Nya:
أولئك الذيـن يدعون يبتغون إلى ربهم الوسيلة أيهم أقرب
ويرجون رحمته ويخافون عذابه (الإسراء : ٥٧)
Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada
Tuhan mereka (kendati pun) orang yang lebih dekat (kepada Allah) di antara
mereka dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya... (QS.
Al Israa': 57).
Jadi wasilah adalah semua yang digunakan sebagai jalan untuk
mendekatkan diri kepada sesuatu.
Istilah yang dipakai dalam hal ini bisa beberapa macam, tetapi
artinya sama saja, seperti: al wassala, al wasa-il, at tawsil, at tawassul.
Dengan demikian bisa dikatakan: si Fulan menghubungi Tuhannya
dengan perantaraan penghubung (wasilah), dan mendekatkan diri
kepada-Nya dengan perantaraan amal perbuatan tertentu. Atau
dengan kata lain,_wasilah adalah semua yang dijadikan sebab
dikabulkannya suatu permohonan oleh Allah dan menolong untuk
mendekat kepada-Nya. Si penghubung dalam hal ini adalah
seseorang atau sesuatu yang memiliki nilai dan kedudukan lebih
tinggi dibanding orang yang meminta perantaraan untuk memohon
kepada-Nya.
Adapun lafadz al wasilah secara umum mencakup dua hal.
Pertama, memohon dengan perantaraan kebaikan para nabi dan or-
ang-orang yang soleh, baik semasa mereka hidup maupun setelah

wafatnya. Dan kedua, memohon dengan perantaraan amal-amal
baik yang diperintahkan oleh Allah yang pernah dilakukan. Ini
seperti yang terjadi pada tiga orang lelaki yang memasuki sebuah
gua, kemudian banjir menyebabkan sebuah batu besar longsor dan
menutup pintu gua sehingga ketiganya tidak bisa keluar. Kisah ini
dimuat di dalam Shahih Al Bukhari dan lain-lain. Penjelasannya
adalah sebagai berikut:
Salah satu berkata, "Tidak ada yang bisa menyelamatkan
kalian kecuali bila kalian memohon kepada Allah dengan amal-
amal soleh yang telah kalian lakukan." Maka masing-masing
berdoa dengan menggunakan perantaraan amal solehnya seraya
memohon agar hal itu bisa diterima oleh Allah. Ternyata Allah
mengabulkan permohonan mereka dan mereka pun bisa terbebas
dari kesulitan.
Jadi jelas bahwa bertawassul dengan perantaraan amal yang
pernah dilakukan berbeda dengan bertawassul dengan melakukan
amal itu sendiri. Ketiga orang tersebut tidak melakukan amal-
amal solehnya pada waktu itu, melainkan meratap kepada Allah
dengan amal-amal soleh itu. Jadi, mereka mendapatkan kebebasan
bukan karena amal itu sendiri, tetapi karena doanya dengan amal
itu. Dari kejadian tersebut juga tampak bahwa sarana yang
digunakan sebagai wasilah haruslah memiliki nilai dan harga di
sisi Allah. Hal ini merupakan syarat yang umum sebagaimana
bisa kita jumpai di dalam hadits-hadits yang shahih dan atsar-atsar
yang kuat.
Ath Thabrani di dalam Mu'jam-nya yang agung dan tengah-
tengah mengeluarkan dengan sanad orang-orang yang benar seperti
Ibnu Hibbam dan Al Hakim dari Anas ra. yang berkata, "Tatkala
Fathimah binti Asad ibunda 'Ali bin Abi Thalib wafat, Rasulullah
saw. masuk ke rumahnya..." dan seterusnya, hingga pada akhir
hadits dikisahkan:
أنه لما فرغ عن حفر لحدها دخل رســول الله صلى الله عليه
وسلم فاضطجع فيه وقال : "الله الذي يحيي ويميت وهو حي
لا يموت, اغفر لأمى فاطمة بنت أسد, ولقنها حجتها, وويغ





Komentar

Postingan populer dari blog ini

PELATIHAN MENJAHIT