KAROMAH PARA WALI ALLAH
KARAMAH PARA WALI
Allah berfirmar:
ألا إن أوليـــاء الله لاخوف عليهم ولا هم يحزنون * الذين امنوا
وكانوا يتقون * لهم البشري في الحياة الدنيا وفي الآخرة لاتبديل
لكلمات الله ذلك هو الفوز العظيم «يونس : ٦٢-٦٤
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah, tidak ada kekhawatiran terhadap
mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang
iman dan selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan
di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah Yang
demikian itu adalah kemenangan yang besar (QS. Yanus: 62-64).
Al Qur'anul Karim tidak dihinggapi oleh kebathilan, baik daridepan maupun belakangnya. Ia memberi petunjuk kepada hal-hal yang baik dan memberi kabar gembira bagi orang-orang yang beriman Tidak akan sesat barangsiapa mengikutinya. Sebaliknya,Tidak akan berhasil barangsiapa mengikuti hawa nafsunya dan mengambil petunjuk dari selain Al Qur'an.
Namun sebagaimana ada orang-orang yang tidak terpengaruh oleh jual beli dan perniagaannya untuk berdzikir kepada Allah, ada pula para pengikut kebathilan yang tak mau melepaskan diri dari walayahnya untuk meninggalkan belenggu keburukan dan kehancuran.
Dalam banyak hari, kita bisa menemukan orang-orang yang menolak karomah para wali, bahkan menolak para wali itu sendiri secara mutlak. Ada orang yang mendustakan para wali, ada orang yang mendustakan karamah para wali, ada pula yang mempercayai sebagian darinya. Dewasa ini banyak orang yang mempertanyakan karamah: Apakah hal itu masih berada dalam kerangka syariat? Apakah ada dalil tentang hal itu di dalam Al Kitab yang mulia dan sunnah yang suci? Apa hikmah di balik berlakunya karamah pada
diri para wali dan hamba-hamba Allah yang soleh dan bertakwa? Dan sebagainya.
Belakangan ini, paham materialisme, atheisme, jalan yang sesat dan meragukan mengedepan di benak banyak pemuda Islam. Paham-paham tersebut menyesatkan banyak orang tanpa mereka sadari, membuat mereka berhenti di depan karamah: ada yang menolak mati-matian, ada yang bimbang dan merasa gentar, ada yang bingung dan terheran-heran. Semua itu adalah akibat lemahnya iman mereka kepada Allah dan ketentuan-ketentuan-Nya serta tipisnya kepercayaan dan cinta mereka terhadap para wali dan hamba-hamba- Nya yang bertakwa. Allah berfirman:
كلا نمدهؤلاء وهؤلاء من عطاء ربـك وماكان عطاء ربـك
محظورا (الإسراء : ٢٠)
Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golongan itu,
Kami berikan karunia dari pemberian Tuhanmu. Dan pemberian Tuhanmu
tidak dapat dihalangi. (QS. Al Israa: 20).
Karamah adalah hal di luar kebiasaan yang ditunjukkan oleh Allah melalui hamba-Nya yang telah jelas kebaikannya, dengan keharusan untuk mengikuti Nabi saw. yang ditugaskan untuk menegakkan syariat-Nya, dengan keyakinan yang benar dan amal yang soleh, yang diketahui atau tidak diketahui orang lain. Karamah bukan hal yang mustahil. Sifat kejadiannya adalah jaiz. la tidak sering-sering terjadi, sebab bukan merupakan adat kebiasaan.
Dengan demikian, karamah tidak diharuskan sesuai dengan ketentuan adat yang berlaku, sebab setiapkali terjadi selalu merupakan hal yang luar biasa. Keluarbiasaan ini apabila dinisbahkan kepada nabi disebut mukjizat, baik tampak dalam kemampuan nabi itu sendiri atau kemampuan salah satu dari umatnya. Sedangkan apabila dinisbahkan kepada wali disebut karamah, yang tampak dari kemampuan si wali. Adapun apabila dinisbahkan kepada selain keduanya bisa menjadi khadzalan dan istidraj. Seorang nabi dari ilmunya diketahui bahwa dia adalah nabi, sehingga perlu baginya menunjukkan hal-hal yang aneh-aneh yang mengandung hikmah. Itu merupakan mukjizat. Berbeda dengan wali dan karamahnya. Memiliki karamah tidak selalu menyenangkan, sebab dikhawatirkan bahwa ia akan berubah menjadi istidraj. Sedangkan orang yang mendapatkan istidraj itu merasa senang dengan kemampuan yang dimilikinya, dan pada saat yang sama menghina serta meremehkan orang lain. Oleh karena itu, apabila yang tampak adalah keadaan seperti yang disebutkan belakangan, maka ia merupakan istidraj, dan bukan karamah. Itu pula sebabnya
para ulama berkata, "Kebanyakan terputusnya hubungan seseorang dari hadirat Allah terjadi pada maqam karamah. Maka dari itu, sementara ulama takut kepada karamah sebagaimana takutnya mereka kepada bermacam-macam bencana."
Karamah diteguhkan atas diri para wali. Oleh sebab itu, ada orang-orang yang sebenarnya memiliki karamah tetapi tidak mau menunjukkannya karena merasa tidak membutuhkannya. Inilah alasannya mengapa munculnya karamah dari kalangan sahabat dan
tabi'in yang soleh relatif sedikit sekali.
Seorang ulama ditanyai, "Untuk apa pada zaman akhir ini ada lebih banyak karamah daripada dulu?" Maka dia menjawab, "Hal itu disebabkan lemahnya keyakinan orang-orang dewasa ini, sehingga dirasakan perlu untuk menarik mereka dengan karamah.
Dengan demikian, mereka menjadi percaya kepada orang-orang yang soleh. Adapun orang-orang dulu tidak memerlukan keadaan seperti itu sebab keyakinan mereka mengikuti neraca syariat."
Demikianlah penjelasan menurut jalan yang bersih bagi orang yang mencari kebenaran, menghendaki ma'rifat manhaj yang lurus, terkuaknya kebenaran, pembelaan terhadap syariat Allah, serta pengakuan terhadap ketentuan Yang Maha Mampu yang menghidupan tulang-belulang yang telah lapuk. Tidak ada larangansahabat Rasulullah. Berita tentangnya sampai kepada kita pada hari ini, dan diakui oleh jumhur ulama ahlus sunnah wal jama'ah dari kalangan fuqaha, muhaddits, serta ushuliyyin. Barangsiapa mau menengok kitab-kitab orang-orang salaf yang benar dan terpercaya, niscaya akan menemukan kesaksian tentang
hal itu, bahkan ada bukti yang bisa dilihat secara jelas bahwa karamah wali ada di sepanjang zaman Islam. Tak ada yang mengingkari hal itu selain ahli bid'ah yang lemah imannya terhadap Allah, sifat-sifat, serta perbuatan-Nya. Imam Al Yafi'i ra. berkata di dalam kitabnya, Raudhur Rayahin: "Manusia berbeda-beda dalam mengingkari karamah. Ada yang
mengingkari karamah para wali secara mutlak, dan dari mereka ini adalah pengikut madzhab yang terkenal yang tersingkir taufiknya. Ada yang mendustakan karamah wali yang hidup sezaman dengannya, tetapi mempercayai karamah para wali yang tidak sezaman dengannya, seperti Ma'ruf Al Karkhi, Imam Al Junaid, Sahl At Tusturi, dan sebagainya.
Mereka itu, sebagaimana dikatakan oleh Abul Hasan Asy Syadzili ra.: "Demi Allah, hal itu tidak lain adalah Israiliyat, percaya terhadap Musa as. tetapi mendustakan Muhammad saw. hanya karena beliau hidup sezaman dengan mereka."Ada pula orang-orang yang percaya bahwa Allah menganugerahkan karamah bagi wali-wali-Nya, tetapi mereka tidak percaya kepada seseorang yang terpercaya dari antara orang-orang yang sezaman dengannya."Dalil tentang terjadinya karamah yang berasal dari Al Qur'aanul Karim di antaranya adalah kisah Maryam. Dia mengguncang-guncangkan pohon kurma kering, kemudian pohon itu menghijau danberjatuhanlah ruthabnya (kurma yang masih mengkal). Allah berfirman:
وهزي إليك بجذع النخلة تساقط عليك رطبا جنيا مريم : ٢٥)
Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan
menggugurkan buah kurma yang masak untukmu. (QS. Maryam: 25).
Diceritakan oleh Allah di dalam Kitab-Nya yang suci bahwa Zakaria as. setiapkali masuk ke kamar Maryam melihat banyak makanan di dalamnya, padahal tidak ada seorang pun yang diijinkan masuk ke situ kecuali Zakaria as. Bagi karamah, kecuali untuk mengatasi masalah-masalah ini sesuai dengan ditetapkan oleh Al Kitab yang mulia dan sunnah Rasulullah yang mulia. Maka kita katakan bahwa karamah adalah ketetapan dari Kitabullah, sunnah Nabi-Nya yang mulia, serta atsar dari para Al Qur'aan telah menceritakan di dalam firman:
وأنبتها نباتا حسنا وكفلها زكريا كلما دخل عليها زكريا المحراب
وجد عندها رزقا قال يـامريم أنى لك هذا قالت هو من عند الله إن
الله يرزق من يشاء بغير حساب ال عمران : ۳۷ )
... dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan menjadikan
Zakaria pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui
Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata,
"Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam
menjawab, "Makanan itu dari sisi Allah." Sesungguhnya Allah
memberi rizki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. (QS.
Ali 'Imraan: 37).
Maksudnya, Allah menumbuhkan Maryam dengan pertumbuhan yang sempurna dan membaguskan penciptaan-Nya. Perkembangannya benar-benar terjaga laksana bayi hingga usia satu tahun. Dia dipelihara oleh Zakaria as., tak ada orang lain yang boleh memasuki biliknya. Namun demikian, Zakaria as. mendapati buah-buahan musim panas pada waktu musim dingin,dan buah-buahan musim dingin ketika musim panas. Begitu pula kisah Ash-habul Kahfi yang terdiri dari tujuh orang ningrat bangsa Romawi yang hidup setelah zaman 'Isa as.Mereka mengkhawatirkan keimanannya dari raja mereka,sehingga akhirnya pergi dari negeri mereka. Suatu saat, mereka menemukan sebuah gua lalu masuk ke dalamnya dan tinggal disitu tanpa bekal makanan atau minuman. Dan ternyata, mereka mendiami gua tersebut selama 309 tahun dalam keadaan tidur. Mereka tetap hidup dan terhindar dari segala kerusakan. Allah melindungi mereka dari terik sinar matahari yang membakar.
Al Qur'aan telah menceritakan kisah ini di dalam surat Al Kahfi sebagai berikut:
أم حسبت أن أصحاب الكهف والرقيم كانوا من عاياتنا عجبا * إذأوى الفيـة إلى الكهف فقالوا ربنا ءاتنا من لدنك رحمة وهيئ لن من أمرنا رشدا * فضربنا علـى ءاذانهم في الكهف سنين عددا{11} ثم بعثناهم لنعلم أي الحزبيـن أخصى لمالبثوا أمدا * نحننقص عليــك نبأهم بالحق إنهم فتية عامنوا بربهم وزدناهم هدى *وربطنا على قلوبهم إذ قاموا فقالوا ربنا رب السماوات والأرض لن ندعوا من دونه إلها لقد قلنا إذا شططا * هؤلاء قومنا اتخذوا من دونه عالهة لولا يـأتون عليهم بســلطان بين فمن أظلم ممن افترى علـى الله كذبا * وإذ اعتزلــتُموهم ومايعبدون إلا الله فأووا إلى الكهف ينشر لكم ربكم من رحمته ويهيئ لكم من أمركم مرفقا * وترى الشمس إذا طلعت تزاور عن كهفهم ذات اليمين وإذا غربت تقرضهم ذات الشمال وهم في فجوة منه ذلك من عايـات الله منيهد الله فهو المهتد ومن يضلل فلن تجد له وليا مرشدا * وتحسبهم أيقاظا وهم رقود ونقلبهم ذات اليـــــــمين وذات الشمال وكلبهم باسط ذراعيه بالوصيد لو اطلعت عليهم لوليت منهم فرارا ولملئت منهم رعبا * وكذلك بعثناهم ليتســـاءلوا بينهم قال قائل منهم كم لبثتم قالـوا لبثنا يـوما أو بعض يـوم قالوا ربكم أعلم بما لبثتم *(الكهف : ۹-۱۹)
Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang
mempunyai) raqim itu, termasuk tanda tanda kekuasaan Kami yang
mengherankan? (Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam
gua, lalu mereka berdoa, "Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam
urusan kami (ini).
Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu, kemudian
Kami bangunkan mereka agar Kami mengetahui yang manakah di antara
kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka
tinggal (dalam gua itu).
Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya.
Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada
Tuhannya dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk, dan Kami telah
meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu berkata: "Tuhan kami
adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain
Dia. Sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan
yang amat jauh dari kebenaran."
Kaum kami ini telah mengadakan selain Dia, tuhan-tuhan (untuk disembah).
Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang
kepercayaan mereka?). Siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang
yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?
Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain
Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu
akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan
sesuatu yang berguna bagimu dalam urusanmu.
Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke
sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam, ia menjauhi mereka ke sebelah
kiri, sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah
sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi
petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa
yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin
pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.
Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; dan Kami
balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka menjulurkan
kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka,
tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan
tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka.
Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di
antara mereka. Berkatalah salah seorang di antara mereka: "Sudah berapa
lamakah kamu berada (di sini?)." Mereka menjawab, "Kita berada (di sini)
sehari atau setengah hari." Berkata (yang lain lagi), "Tuhan kamu lebih
mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini)... (QS. Al Kahfi: 9-19).
Kafan telah compang-camping, perasaan telah hancur luluh, kulit-kulit telah tercabik-cabik, pipi-pipi telah keropos, leher-leher penuh nanah dan belatung. Apa yang pernah kami perbuat telah kami jumpai, apa yang kami tinggalkan kami sesali, dan kami hidup dalam teka-teki."Ada juga kisah tentang Khubaib ra. yang ditemukan makan anggur di luar musimnya. Dikeluarkan sebuah hadits shahih oleh Al Bukhari di dalam Shahihnya pada bab perang Ar Raji dengan lafazh sebagai berikut: Dari Abu Hurairah ra.: "Sesungguhnya Khubaib menjadi tawanan keluarga Al Harits di Makkah. Di dalam suatu kisah yang panjang, puteri Al Harits berkata, "Aku tak pernah melihat tawanan sebaik Khubaib. Aku melihatnya makan anggur, padahal di Makkah saat itu tak ada anggur yang berbuah, dan sesungguhnya dia dalam keadaan terbelenggu. Hal itu tak lain adalah rejeki dari Allah yang dilimpahkan kepadanya."anid nab synsiam dala Lainnya adalah kisah tentang Sa'ad dan Sa'id ra. yang masing- masing pernah mendoakan orang yang mendustainya, kemudian
doanya dikabulkan. Sebagaimana yang dikeluarkan oleh Al Bukhari dan Muslim di dalam Shahihnya:id Pertama tentang Sa'ad bin Abi Waqqash ra. Dikeluarkan oleh Asy Syaikhani dan Al Baihaqi dari jalan 'Abdul Malik bin 'Umair dari Jabir ra., katanya: "Ada penduduk Kufah yang mengadukan perihal Sa'ad bin Abi Waqqash kepada 'Umar. Maka dia mengirimkan utusan bersamanya untuk menyelidiki hal itu di Kufah. Utusan tersebut berkeliling ke masjid-masjid Kufah, tetapi tidak ada yang mengatakan sesuatu (tentang Sa'ad bin Abi Waqqash) kecuali kebaikan semata, sampai selesai satu masjid. Kemudian berkatalah seseorang yang bernama Abu Sa'adah, "Kalau ditanyakan kepada kami, sesungguhnya Sa'ad tidak adil bila membagi dan tidak sama kalau memberi." Maka Sa'ad langsung berdoa, "Ya Allah, apabila dia berdusta, maka panjangkanlah usianya, panjangkanlah kemiskinannya, dan jadikanlah dia umpan bagi fitnah-fitnah." Berkatalah Ibnu 'Umar, "Maka aku melihat seseorang yang sudah tua renta, telah turun alis di atas matanya, kemiskinan tampak jelas mewarnai keadaannya, dan wanita-wanita jariyah di jalanan selalu memperolok-oloknya."Apabila ditanyakan kepadanya, "Kenapa engkau ini?" dia menjawab,"Seorang tua bangka yang terkena fitnah gara-gara doa Sa'ad."
Kisah kedua adalah tentang Sa'id bin Zaid ra. Dikeluarkan oleh Imam Muslim di dalam kitabnya, Al Masaqah, dari 'Urwah bin Zubair ra.: Sesungguhnya Arawi binti Uwais menuduh Sa'id bin Zaid mengambil sesuatu dari tanah hak miliknya, sehingga dilaporkannya hal itu kepada Warwan bin Al Hakam. Maka Sa'id berkata,"Sesungguhnya aku tidak mengambil sesuatu dari tanahnya sesudah apa yang kudengar dari Rasulullah saw." Marwan bertanya, "Apa yang kaudengar dari Rasulullah itu?" Jawab Sa'id, "Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa mengambil sejengkal tanah secara zhalim, dia akan dibelenggu hingga tujuh petala bumi." Maka Marwan berkata, "Aku tidak akan meminta bukti darimu setelah ini." Selanjutnya Sa'id bin Zaid berdoa, "Ya Allah, bila wanita ini berdusta, maka butakanlah matanya dan binasakan dia di tanahnya." Dikatakan: Maka dia tidak mati sampai buta matanya, dan sewaktu berjalan-jalan di tanahnya, dia terperosok ke dalam sebuah lubang sehingga mati. (Dari kitab Ath Thabaqatul Kubra tulisan Ibnu Sa'ad).
Ada juga kisah Al 'Ala' bin al Hadhrami ra. yang menyeberangi samudera dengan menunggangi kudanya, dan air bisa bisa menyumber karena doanya. Dikeluarkan oleh Ibnu Sa'ad di dalam Ath Thabaqat dengan lafazh sebagai berikut: Abu Hurairah ra. berkata, "Aku melihat dari diri Al 'Ala' bin Al Hadhrami tiga hal yang tidak akan hilang kekagumanku selamanya: Aku melihatnya melintasi samudera di atas kudanya pada perang Darain. Pasukan datang dari Madinah dan hendak menuju ke Bahrain. Ketika tiba di Ad Dahna', persediaan air mereka habis. Dia (Al 'Ala') lalu berdoa kepada Allah, dan menyumberlah bagi mereka air dari bawah pasir. Mereka pun minum sepuas-puasnya dan langsung berangkat. Kemudian seseorang terlupa membawa sebagian barangnya sehingga dia kembali untuk mengambilnya. Ternyata dia tidak melihat ada air di situ. Aku ikut keluar bersamanya bergabung dengan pasukan Bashrah, ketika kemudian Balyas meninggal sedangkan kami tidak memiliki air. Maka Allah menampakkan mendung kepada kami lalu turun hujan sehingga kami bisa memandikan jenazahnya. Kami pun menggali lubang dengan pedang-pedang kami dan belum menguburnya. Namun ketika kami kembali untuk menguburnya, kami tidak menemukan tempat kuburnya." Berikutnya adalah kisah Khalid bin Al Walid ra. yang meminum racun, sebagaimana dikeluarkan oleh Al Baihaqi, Abu Nu'im, Ath Thabrani, dan Ibnu Sa'ad dengan sanad shahih. Lafazhnya adalah
sebagai berikut: Dikeluarkan oleh Al Baihaqi, Abu Nu'im, dan Ibnu Sa'ad dengan sanad shahih dari Abus Safar, katanya: "Khalid bin Al Walid turun ke Al Hirah, kemudian dikatakanlah kepadanya, "Waspadalah terhadap racun, jangan meminum pemberian orang-orang ajam." Maka Khalid berkata, "Bawa saja kemari." Diraihnya gelas minuman seraya
mengucapkan, "Bismillah," lalu diminumnya, dan ternyata tidak mengakibatkan suatu apa pun pada dirinya." (HR. Al Baihaqi, Abu Nu'im, Ath Thabrani, dan Ibnu Sa'ad dengan sanand shahih. Peristiwa ini juga disebut-sebut oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam kitab
Tahdzibut Tahdzib).Yang lain adalah mengenai Hamzah Al Aslami ra. yang jari-
jemarinya menyala di tengah malam gulita. Dikeluarkan oleh Al Bukhari di dalam At Tarikh tentang Hamzah Al Aslami ra., katanya: "Kami menyertai Nabi saw. dalam perjalanan, kemudian kami tercerai-berai di tengah malam yang sangat gelap. Tiba-tiba jari- jemariku menyala sehingga semua bisa bersatu kembali dan tak ada yang terpisah, sedangkan jari-jariku terus menyala." (Dari Tahdzibut Tahdzib Ibnu Hajar).
Selanjutnya adalah kisah tentang Ummu Aiman dan bagaimana dia kehausan sewaktu dalam perjalanan hijrahnya, kemudian turunlah seember air dari langit sehingga dia bisa minum. Berkatalah 'Utsman bin Qasim: "Keluarlah Ummu Aiman untuk berhijrah kepada Rasulullah. Dia pergi dari Makkah ke Madinah dengan berjalan kaki tanpa membawa apapun, padahal dia sedang berpuasa pada hari yang sangat panas. Dia merasakan dahaga yang amat sangat hingga serasa hampir mati kehausan sewaktu sampai di Ar Rauha' atau di dekat situ. Tatkala matahari terbenam, dia berkata, "... Lalu aku merasa ada sesuatu di atas kepalaku sehingga aku menengadah. Ternyata ada sebuah ember dari langit yang tergantung pada seutas tali berwarna putih. Ember itu terus mendekat sampai aku bisa meraihnya. Maka aku pun mengambilnya kemudian meminum airnya sampai puas." Katanya lagi, "Maka pada hari yang panas itu aku berjalan di bawah sinar matahari sehingga kehausan, kemudian tidak pernah lagi merasa haus sesudahnya." (Dikeluarkan oleh Abu Nu'im di dalam Al Hilyah).Salah satu sahabat pernah mendengar bacaan surat Al Mulk dari dalam kubur setelah tanpa sengaja memasang kemah di atasnya. Dikeluarkan oleh At Tirmidzi dari Ibnu 'Abbas ra., katanya: "Salah satu sahabat Nabi saw. telah memasang kemah di atas kuburan tanpa mengira bahwa tempat itu adalah kuburan. Kemudian dari dalam kubur tersebut terdengar seseorang membaca surat "Tabarakalladzi biyadihil mulku" sampai selesai. Maka dia melapor kepada Nabi saw. dan berkata, "Wahai Rasulullah, aku memasang
kemahku di atas kuburan, sedangkan aku tidak tahu bahwa tempat itu adalah kuburan. Tiba-tiba dari dalamnya terdengar seseorang membaca surat "Tabarakalladzi biyadihil mulku" sampai habis. Maka bersabdalah Rasulullah, "Itu adalah perisai. Itu adalah penyelamat yang menyelamatkannya dari siksa kubur." (HR. At Tirmidzi dalam kitab Fadha-ilul Qur'aan, dan dikatakan sebagai hadits hasan gharib).
Kisah lain adalah tentang bertasbihnya sebuah mangkok besar yang digunakan untuk makan oleh Salman Al Farisi dan Abu Darda', dan kedua orang tersebut bisa mendengar tasbihnya. Dikeluarkan oleh Al Baihaqi dan Abu Nu'aim dari Qais yang berkata: "Sewaktu Abu Darda' dan Salman makan dari sebuah mangkok besar, keduanya mendengar tasbih dari mangkok itu beserta seluruh isinya. Dari Muhammad bin Al Munkadir dari Safinah, maula Rasulullah saw., katanya: "Aku sedang mengarungi samudera ketika kemudian kapal yang kutumpangi pecah berantakan. Aku lalu berpegangan pada selembar papan pecahan kapal tersebut dan akhirnya terdampar di sebuah hutan yang banyak dihuni singa. Seekor dari mereka datang untuk memangsaku, kemudian aku berkata, "Wahai Abul Harits, aku adalah maula Rasulullah saw." Maka dia menundukkan kepalanya sembari mendekat kepadaku. Dia mendorongku dengan bahunya sampai aku berhasil keluar dari hutan itu, dan menaruhku di jalan. Dia kemudian meraung, kukira sebagai tanda minta diri kepadaku. Maka itulah akhir pertemuanku dengannya." (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak, dikatakan shahih atas syarah Muslim; dan Abu Nu'aim dalam Al Hilyah). Safinah nama sebenarnya adalah Qais bin Faraj, sedangkan julukannya adalah Abu 'Abdur Rahman.
Demikianlah beberapa cuplikan tentang karamah para sahabat Rasulullah dan tabi'in. Karamah itu terus berlanjut pada generasi tabi'it tabi'in sampai dewasa ini, sehingga terlalu banyak untuk dihitung dan sulit untuk dihimpun. Berkatalah At Tajus Subki di dalam Ath Thabaqatul Kubra:"Karamah itu bermacam-macam jenisnya, seperti: menghidupkan orang mati, berbicara dengan mayit, berjalan di permukaan air, terbaliknya mata, bergesernya tanah, berbicaranya binatang dan benda-benda mati, menyembuhkan sakit, menjinaknya binatang,terlipatnya waktu, tersebarnya waktu, membisunya lisan, dan sebagainya, sampai dihitung ada duapuluh lima macam. Bagi setiap jenis karamah tersebut disertai dengan contoh dan kisah yang berlaku pada para ulama dan syaikh-syaikh sufiyah." Berbagai ulama telah menyusun berjilid-jilid buku yang menerangkan tentang tokoh-tokoh imam mereka beserta karamah yang dimiliki. Antara lain adalah sebagai berikut: Fakhruddin Ar Razi dalam tafsirnya tentang surat Al Kahfi:"Yang menunjukkan tentang sifat jaiz dari karamah para wali adalah Al Qur'aanul Karim, akhbar, atsar, serta ma'qul."Abu Bakar Al Baqilani, Imam Al Haramain, Abu Bakar Al Furak,Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali, Nasiruddin Al Baidhawi,Hafizhuddin An Nisfi, Tajuddin As Subki, Abu Bakar Al Asy'ari, Abul Qasim Al Qusyairi, An Nawawi, Yusuf An Nabhani, dan ulama muhaqqiqin yang tak bisa dihitung. Dengan demikian, hal itu menjadi ilmu yang kokoh, yang tidak mendatangkan keraguan atau syubhat, serta tidak menimbulkan tuduhan dan buruk sangka.Terkadang sementara orang bertanya, "Mengapa karamahsahabat lebih sedikit kuantitasnya daripada karamah para wali yang hidup sesudahnya?"Salah satu jawaban datang dari Tajuddin As Subki di dalam AthThabaqatul Kubra, sebagai berikut: "Jawaban bagi pertanyaan ini bisa disitir dari imam yang terhormat, Ahmad bin Hambal ra., tatkala kepadanya diajukan pertanyaan serupa, "Para sahabat itu sangat kuat imannya sehingga tak memerlukan tambahan-tambahan karamah yang menyertainya. Adapun iman generasi-generasi sesudahnya kian melemah sampai tidak bisa mencapainya kecuali setelah menyaksikan berbagai karamah."
Dalam pada itu, hikmah dari terjadinya karamah atas diri para.........( bersambung)
Komentar